Diskusi Publik

DISKUSI TERBATAS LISENSI CREATIVE COMMONS UNTUK INDONESIA

Pada tanggal 7 Juli 2012, Creative Commons Indonesia mengadakan diskusi publik yang pertama, bertempat di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok. Diskusi publik ini dihadiri oleh 21 orang dari kalangan terbatas yang diundang untuk mendiskusikan hasil pertama penerjemahan dan penyesuaian lisensi Creative Commons dalam Bahasa Indonesia.

Pada saat diskusi, peserta juga dibekali oleh materi komunikasi, termasuk poster, selebaran, buku Budaya Bebas yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan versi cetak lisensi Creative Commons dalam Bahasa Indonesia. Peserta juga memberi masukan agar uraian info di poster, selebaran, dan versi cetak lisensi untuk diperbaiki karena kurang dapat dipahami. Ada pula masukan agar Creative Commons Indonesia melakukan sosialisasi kepada penegak hukum seperti polisi, agar pihak penegak hukum mengerti perbedaan dan persamaan lisensi Creative Commons dengan hak cipta yang diketahui masyarakat pada umumnya.

Siaran pers dari kegiatan ini dapat Anda lihat di sini.

Pranala lain:

 

AUDIENSI CREATIVE COMMONS INDONESIA DENGAN DIREKTUR JENDERAL HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL

Pada hari Selasa, 31 Juli 2012, Creative Commons Indonesia diundang untuk mengadakan audiensi oleh Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual. Audiensi selama kurang lebih 1,5 jam yang dilaksanakan di Direktorat Jenderal Hak Asasi Manusia, Kuningan, Jakarta ini dihadiri oleh Ari Juliano Gema dan Alifia Qonita Sudharto sebagai perwakilan dari Creative Commons Indonesia, serta Bapak Ahmad M. Ramli (Direktur Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual), Ibu Yuslisar Ningsih (Direktur Hak Cipta, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang), Ibu Corrie Naryati (Direktur Paten), Bapak Fathlurahman (Direktur Merek), dan Bapak M. Adri (Direktur Penyidikan). Pertemuan ini dimulai dengan sambutan dari Bapak Ahmad M. Ramli dan penjelasan singkat dari Ari Juliano Gema tentang lisensi Creative Commons dan kaitannya dengan hukum hak cipta di Indonesia.

Di dalam pertemuan ini, Ari juga menyatakan bahwa lisensi Creative Commons adalah lisensi yang direkomendasikan UNESCO untuk digunakan dalam kaitannya dengan program Open Educational Resources (Sumber Pendidikan Terbuka). Bapak Ahmad M. Ramli kemudian menyampaikan keinginannya untuk mengakomodasi keberlakuan lisensi Creative Commons di Indonesia di dalam rancangan undang-undang tentang hak cipta yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi teks. Menurut beliau, lisensi Creative Commons adalah jalan keluar yang baik dari keinginan para pencipta untuk menyebarluaskan dan memberikan akses sebesar-besarnya untuk publik atas ciptaannya. Keinginan para pencipta untuk berbagi tidak kemudian berarti adanya pelanggaran hak cipta, karena lisensi Creative Commons tetap melindungi hak moral dari para pencipta.

TWEET @CC_ID